Translate

Selasa, 09 Juli 2013

hany anchani_ the story part 2

Sore mendung, awan gelap menghalangi cerahnya matahariku. Terpaku dijalan buntu, meratap dan memaksa akan adanya malaikat yang memudahkan langkahku. Meski lelah, tak pernah ada sedikitpun keinginan untuk menyerah. Inilah aku dan watak kerasku. Ribuan kata kata waraspun tidak juga membuat akal sehatku terbangun. Naluriku hanya mengatakan satu. Bodoh memang, tapi saat ini, seperti inilah aku, hidup dan matiku seolah hanya untuk kamu.

























Sudah saya ceritakan sebelumnya bagaimana kami dipertemukan disebuah perusahaan tempat saya bekerja hingga akhirnya karena sesuatu hal saya putuskan untuk resign dari sana. Bagi yang belum baca silahkan buka hany anchani_the story part 1 . Masih teringat jelas saat dia menangis mendengar keputusan saya untuk pergi, saya coba usap air matanya, saya yakinkan dia bahwa saya tak akan kemana mana. Saya tetap disini, ada di hati ini, ada dalam kesetiaan ini. saat ini tak mampu lagi saya bohongi lagi, setelah hampir 1 tahun kami bersama saya mulai mencintai dia, dan saya yakinkan pada diri saya untuk menjaganya, memiliki dia dengan rasa sayang seutuhnya, rasa cinta sepenuhnya. Inilah saat paling indah yang saya rasakan. Saya benar benar memeluknya dengan sebuah ketulusan cinta.
Kami terus melangkah, saya sudah rencakan untuk menikahinya, meski bukan sekarang atau dalam waktu dekat, tapi saya yakin itu pasti jadi nyata. Jujur memang setelah itu saya terlalu protek terhadap dia, bahkan bisa dibilang posesive. Tapi semua itu saya lakukan demi kebaikan dia, menjaganya dari hal hal buruk yang memang rentan dan sangat dekat dengan kehidupan dan pekerjaannya. Bahkan seringkali kami bertengkar dengan tidak wajar, emosi saya begitu meledak saat ada hal hal yang saya tidak bisa terima. Air matanya pun bukan hal yang asing lagi buat saya. Saya begitu jahat saat saya mencoba membatasi ruang lingkupnya. Saya fikir bukankah itu untuk kebaikan dia. Tentu saja saya tidak mau calon pendamping saya melakukan hal hal yang tidak semestinya mengingat pengalaman saya terhadap wanita dengan profesi yang sama seperti dia banyak yang tergelincir kejalan yang salah.
Waktu terus berjalan tanpa terasa hany semakin menjauh dari saya, kalau dulu dia yang selalu datang pada saya, saat ini bahkan saya selalu memaksa dan sering bertengkar terlebih dahulu untuk sekedar bertemu atau mengantarnya pulang. Saya sadar bahwa perasaan dia sudah mulai menyusut, keyakinan dan rasa cinta yang besar lah yang membuat saya tetap bertahan. Seringkali saya melakukan ancaman ancaman yang membuat dia tidak bisa bergerak, membuat dia selalu bersama saya. Pernah saya sampaikan pada orang tua nya tentang pekerjaan dia yang sebenarnya, dengan maksud meminta bantuan agar hany bisa dibujuk keluar dari sana. Namun heran entah kenapa hany masih terus bertahan, mungkin karena ada peraturan yang mengharuskan para therapist membayar denda sekian juta apabila keluar saat masih tersisa masa kontrak atau memang keinginan hany sendiri yang kuat untuk tetap bekerja disana. Ya, alasan ekonomi jadi yang paling kuat, apalagi kondisi ibunya memang sedang sakit sakitan dan sementara saya mampu berbuat apa? Saya hanya pekerja dengan upah rata rata. Namun saya yakin suatu saat saya mampu berbuat lebih!! Amin ya allah,,















Februari 2013, saat yang saya tunggu2 tiba. saat yang saya tunggu tiba, rencana saya pun berhasil untuk memberikan surprise ulang tahunnya yang ke 21. Meski sederhana, namun saya cukup senang bisa menjadi sesuatu di hari bahagianya.
























Saat itu akhirnya tiba, saat dimana semua malapetaka terjadi, saat dimana akhirnya hany benar benar hilang dan pergi. Semua bermula saat kami membuat janji, beberapa kali gagal akhirnya saya memaksa diwaktu yang tidak biasa, pagi hari sekitar jam 5 subuh saya datang menjemputnya. Saya tiba ketempat dimana saya biasa menemuinya. 15 menit berlalu dari waktu yang ditentukan tidak ada tanda2 keberadaannya, sms telpon pun tidak ada tanggapan. 30 menit berlalu kesabaran saya habis. Bagaimana tidak? Setelah dia menggagalkan janji janji sebelumnya saat inipun dia lupa? Saya putuskan pulang dengan tangan hampa dan rasa amarah. Sebelum akhirnya dering telpon berbunyi dari ponsel saya, hany menghubungi saya, dengan alasan ketiduran dia mencoba menjelaskan. Saya tidak terima, saya sudah terlalu sabar menghadapi ini semua. Akhirnya saya minta dia datang sendiri ketempat kos saya namun dia menolak dengan alasan belum begitu hafal lokasinya ( memang kos saya sekarang jauh dari tempat sebelumnya ). sesampai dirumah amarah semakin meluap telpon dan sms pun hanya bernada pertengkaran, hingga tanpa sadar sekali lagi ponsel saya melayang dan jadi korban emosi saya.
Hany mencoba menghubungi saya melalui Handphone teman saya, dia meminta kami bertemu di salah satu tempat yang pernah kami kunjungi, saya menolak. Selain lokasinya jauh serta sudah terlalu macet, buat saya juga tidak adil setelah perjuangan saya itu saya harus kembali dihadapkan pilihan yang tidak menyenangkan itu. Pertemuan pun gagal. Hingga beberapa hari kemudian saya tidak mendapatkan satu pesan pun dari hany, saya coba menghubungi dia, tapi sia sia. Tidak ada balasan satupun hingga akhirnya dengan segala emosi yang saya punya saya coba mengancam akan membunuh salah satu temannya apabila dia tidak juga mau menanggapi pesan saya. Kali ini berhasil, akhirnya kamipun bertemu. Fikiran pintar saya kembali bekerja, saya coba tahan handphonenya dengan keyakinan kuat kalau dia pasti akan menemui saya kalau handphone itu ada di tangan saya. Pertemuan selesai tanpa penyelesaian masalah. Tapi saya sudah punya kunci akses untuk bertemu lagi dengannya. Ya, handphone ini kuncinya!
Namun apa yang terjadi? Saya salah! Berhari hari saya coba hubungi dia melalui teman temannya, yang saya dapat hanya caci maki, saya dibilang matre, brengsek, bahkan banyak yang bilang saya pengangguran yang hanya mau memanfaatkan hany! What?? Pengangguran???

Bersambung..............................ke

hany anchani_the story part 3